HISTORY
Universitas Internasional Batam inaugurated its International Linguistic Center last June 20, 2003. The idea of establishing a linguistic centre within the university was prompted by the growing need to be competitive globally. English, whether we realize it or not, has become the language of the world. It is the medium that links more than 200 countries around the globe. Thus, having a command of the English language makes us at par with global demands for effective communication and interaction in media, business, education, technology, and other fields.
It is the goal and desire of the UIB International Linguistic Centre to provide quality and professional English courses and other language courses using the best materials and facilities available. The Centre promises to make the learning process meaningful and effective in the context of authentic communication. Participants will be challenged to think, interact, and apply what they learn in class, focusing on using the language in every day life.
Our current and past clients are Perkin Elmer, Citra Welgrow, Citra Pembina Pengangkutan Industries, Kabil Indonusa Estate, Semblog Citranusa, Citra Agramasinti Nusantara and Nanindah Mutiara Shipyard.
VISION:
To be the best Language Center that provides quality and up-to-date language teaching and language training, beginning in Batam and beyond.
MISSION:
As a Language Center comprising of a group of qualified and highly motivated individuals, we commit ourselves to fulfill our vision to reach out and provide quality services to companies and individuals in Batam and in Indonesia through effective language classes, systematic language training, and well-planned personnel and curriculum development.
Thursday, November 13, 2008
Univesitas Internasional Batam
Labels: UIB
Posted by ricoleon at 12:48 PM 0 comments
Thursday, September 25, 2008
Meninggalkan Istana (Duniawi)
Setelah mantap pada pendiriannya maka beliau pergi mencari obat agar orang tidak menjadi tua, tidak menjadi sakit, dan tidak meninggal, untuk dipersembahkan kepada setiap orang. Pada saat itu beliau berusia 29 tahun, dan dengan seijin Raja Suddhodana beliau meninggalkan keduniawian. Pada malam sebelum kepergiannya, beliau sekali lagi memandang kepada istrinya dan anaknya. Diam-diam tanpa memberitahukan kepada mereka, beliau meninggalkan istana dengan kudanya yang bernama Kanthaka dan ditemani oleh seorang pengawal, anak menteri, bernama Candaka.
Selama dalam perjalanan ke desa dia menikmati pemandangan yang indah, tapi melihat para petani bercucuran keringat kelelahan membajak sawah, tanah dipacul dan dibuang kesamping, dan kelihatan cacing dan binatang melata lainnya terputus badannya oleh ayunan pacul. Semua ini membuat dia berpikir, sungguh semua makhluk hidup menderita.
Karena kesucian yang tinggi dalam benaknya terbentuklah sikap akan kepribadian yang luhur, dia melangkah turun dari kudanya dan berjalan dengan hati–hati dan perlahan-lahan diatas tanah, melewatinya dengan gundah-gulana. Pikirannya penuh dengan hal-hal kesengsaraan dan penderitaan makhluk hidup.
Pikirannya perlu ketenangan. Dia memisahkan diri dari temannya yang berjalan dibelakangnya dan pergi mencari suatu tempat sunyi dekat sebuah pohon besar yang rimbun. Daun-daun yang menyejukkan dari pohon itu dalam keadaan tidak bergerak, dan tanah dibawah itu nyaman. Disana ia duduk bersila, memikirkan mengenai asal mula dan matinya dari semua makhluk hidup. Pikirannya terus menerawang mengenai hal-hal tersebut. Pikirannya penuh konsentrasi dan menjadi tenang. Ketika ia memenangkan kerisauan, dia tiba-tiba bebas dari semua keinginan akan hakekat rasa dan kenafsuan duniawi. Dia telah mencapai tingkat pertama mengenai ketenangan luar biasa, yaitu tenang di tengah-tengah pikiran yang beraneka ragam. Dalam tempatnya itu, dia telah berada pada tingkat kesucian pikiran yang luar biasa. Sekarang dia tidak gembira maupun duka, tidak mengenal tawa atau tangis.
Labels: Riwayat Hidup Sidharta Gautama s/d Nibanna
Posted by ricoleon at 10:44 AM 0 comments
